Menjaring Partisipasi Pemilih Pemula Dalam Pemilu

Kategori: Artikel Diposting oleh : Administrator Dibaca : 714 kali Pada : Selasa, 24 April 2018 - 12:00:33 WIB

Menjaring  Partisipasi Pemilih Pemula Dalam Pemilu


Oleh :
Sombuk Musa Yosep
Anggota KPU Provinsi Papua

    
Pemilih Pemula telah menjadi salah satu perhatian utama dalam momentum demokrasi di Indonesia. Segmen pemilih ini memiliki sejumlah karakteristik yang  khas dan berpotensi menentukan kemenangan dalam kontestasi Pemilihan Umum( Legislatif dan Presiden), serta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).
Kategori Pemilih Pemula adalah kelompok pemilih  yang baru pertama kali menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu,  terdiri dari pemilih yang telah memasuki usia 17 tahun pada saat pemungutan suara, penduduk yang telah menikah, dan purnawirawan TNI dan Polri ( atau yang belum pernah mengikuti pemilu sebelum  berdinas sebagai  tentara atau polisi).
Sehingga pada momontum demokrasi, perhatian yang serius sudah seharusnya diberikan kepada segmen pemilih ini, khususnya yang berusia  antara 17 – 29 tahun.
Mengapa dikatakan Potensial, karena ada beberapa faktor penunjang sehingga partisipasi pemilih ini menjadi salah satu pendukung kemenangan pada Pemilu, baik presiden, legislatif maupun pilkada.
Faktor tersebut diantaranya, pertama, walaupun tingkat partisipasinya masih relatif rendah, akan tetapi proporsinya cukup signifikan. Dapat dilihat pada Pemilu Pilkada 2015 Pemilih Pemula diperkirakan mencapai 20 - 30 persen dari total pemilih di Indonesia, bahkan dalam  Pilkada 2018, jumlah Pemilih Pemula bertamabah kurang lebih 10 juta jiwa.


Dengan demikian, Animo dari Pemilih Pemula di Indonesia untuk berkontribusi dalam politik, termasuk Pilkada semakin hari semakin meningkat, sebagaimana ditunjukkan dengan munculnya sejumlah aktivitas dan entitas politik dalam bentuk relawan demokrasi, simpatisan, tim pendukung, organisasi masa pemuda, dan sebagainya.Selain jumlahnya yang secara potensial cukup signifikan, generasi millenial ini dikenal sebagai segmen pemilih paling dinamis dan memiliki karakteristik tersendiri. 

Dikatakan paling dinamis karena kelompok ini, terutama berada di daerah urban, telah menganut nilai-nilai baru yang lebih memberikan kesempatan individual untuk berpikir dan bertindak. Nilai ini kompatibel dengan prinsip-prinsip demokrasi yang universal dengan berbasis OPOVOV (One Person One Vote One Value).  Bila kesadaran politiknya telah terbangun, maka kelompok ini akan menjadi sangat kritis dan pro pada gerakan perubahan.  


Namun demikian, terdapat pula beberapa faktor penyebab kelompok Pemilih Pemula tidak memiliki ruang gerak yang cukup untuk berkontribusi atau berpartisipasi dalam Pemilu.  
Faktor pertama, adalah persoalan administrasi kependudukan. Sebagian besar Pemilih Pemula baru memasuki usia pilih (17 tahun) dan untuk menjadi pemilih, mereka harus memiliki kartu tanda penduduk elektronik atau pemegang KTP Elektronik, sehingga secara otomatis masuk dalam DP4 yang diserahkan oleh pemerintah c.q. Kemendagri kepada KPU untuk selanjutnya diverifikasi secara faktual di lapangan.  
Ditengarai bahwa tidak sedikit dari pemilih pemula ini belum melakukan perekaman E-KTP sehingga mereka berpotensi tidak dimasukan dalam Daftar Pemilih.


Kemudian, faktor kedua, masih kurangnya pemahaman Pemilih Pemula tentang Pemilu disebabkan minimnya informasi kepemiluan yang menjangkau mereka, baik melalui media massa ataupun tindakan-tindakan sosialisasi dan pendidikan pemilih. Rendahnya pemahaman ini menyebabkan kelompok pemilih ini kurang tertarik untuk berpartisipasi dalam Pemilu.  


Faktor ketiga, belum adanya tokoh idola (role model)  yang dapat menggugah kelompok pemilih ini untuk berpartisipasi dalam Pemilu. Dalam usia mudanya, segmen pemilih ini masih mengandalkan metode afilisiasi terhadap tokoh panutan. Di dalam keluarga biasanya menjadi tokoh panutan adalah ayah atau ibu,maupun anggota keluarga yang lebih tua dan telah mengikuti Pemilu sebelumnya. Jadi pemilih pemula cenderung mengikuti apa yang menjadi pilihan tokoh panutan di dalam keluarga.  Di luar keluarga afiliasi dilakukan terhadap orang-orang penting di dalam komunitasnya seperti tokoh masyarakat,  kepala suku, tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh agama dan pendidik  yang dijadikan panutan.  


Selain itu, faktor keempat,  rendahnya orientasi dari partai politik atau tim sukses terhadap segmen pemilih ini. Mereka dianggap sulit untuk dipegang keteguhan sikapnya dibandingkan segmen pemilih usia lebih tua yang lebih stabil dan memiliki sikap politik, lebih jelas.  Pemilih pemula dianggap sebagai swing voters, yaitu yang dapat ‘berayun’ ke sana kemari bergantung pada pengaruh lingkungan sosial, informasi media, dan juga media sosial.  


Faktor lima atau terakhir yang juga butuh perhatian, adalah  faktor generation gap (gap generasi) dimana para politisi dan tim suksesnya sebagian besar datang dari generasi yang lebih tua, dan relatif kesulitan beradaptasi dengan dunia anak muda yang mengusung ide-ide popular, kritis, pragmatis, dan egaliter.Generasi politisi lebih tua cenderung memilih untuk menghindari style dan persoalan-persoalan yang dihadapi generasi muda, misalnya soal pendidikan berkualitas, sarana dan prasaran yang dibutuhkan generasi muda, pengangguran, dan sebagainya.


Dengan memperhatikan beberapa faktor tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada momentum Pemilihan Pilkada serentak 27 Juli 2018,  akan berdampak berkurangnya partisipasi pemilih khususnya Pemilih Pemula.
Maka dari itu perlunya perhatian yang serius bagi Pemilih Pemula. Untuk itu sebagai langkah-langkah solusi agar partisipasi Pemilih Pemula semakin meningkat dan tidak mengalami penurunan, maka perlu lima langkah startegis menjaring pemilih pemula dalam Pemilu.


Langkah pertama yang perlu dilakukan, dengan mendorong Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) di setiap Kabupaten/Kota di Provinsi Papua untuk mengintensifkan perekaman E-KTP bagi penduduk berusia 17 – 22 tahun yang  belum memilikinya.  Dinas yang bertanggung jawab harus secara pro-aktif melakukannya dengan pola ‘jemput bola.


Kedua, keluarga yang memiliki anggota keluarga  dalam usia pilih tapi belum memiliki E-KTP juga harus mendorong mereka untuk melakukan perekaman E-KTP.
Kemudian, langkah ketiga, pada umumnya pemilih pemula masih berstatus pelajar Sekolah Menengah Atas (SMU dan SMK), maka pimpinan sekolah dapat berinisiatif mengundang instansi yang berwenang untuk berkunjung ke sekolah, melakukan perekaman E-KTP.


Langkah selanjutnya, Informasi kepemiluan juga harus gencar disampaikan ke segmen pemilih ini oleh penyelenggara da pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap pendidikan pemilih dengan menggunakan saluran, metode, dan gaya yang cocok dengan style segmen pemilih muda.


Langkah kelima, dari hasil Pencocokan dan Penelitian  (Coklit), pemilih dari segmen ini yang teridentifikasi belum terekam dalam sistem E-KTP , maka Penyelenggara Pemilu ( KPU ) segera menginformasikannya kepada pemerintah setempat c.q. Dinas Dukcapil, agar segera dapat dilakukan perekaman E-KTP.


Sehingga sudah menjadi kewajiban bagi semua pihak, terutama penyelenggara maupun peserta Pemilu untuk berupaya agar kelompok pemilih pemula ini dapat menggunakan hak pilihnya , mengingat jumlah mereka yang signifikan dan posisi mereka yang strategis sebagai calon pemimpin di masa depan. ( *** )




Berita Terkait
Komentar (0)
Isi Komentar
  • Name:
  • Email:
  • Komentar:
  • Captcha: